Cara Budidaya Cabe Merah

April 11, 2020 by Tidak ada Komentar

Cara Budidaya Cabe Merah

Cara Budidaya Cabe Merah

FASE PRATANAM

  1. Pengolahan Lahan

v   Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2

v   Diluku kemudian digaru (biarkan+ 1 minggu)

v   Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2

v   Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm

v   Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)

v  Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan200 cc larutan induk.

v  Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan+ 5-10 m.

v  NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang+ 5 – 10 meter.

v  Campurkan GLIO 100 – 200 gr ( 1 – 2 bungkus ) dengan 50 – 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.

v  Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1– 2 minggu ).

  1. Benih

v   Kebutuhan per 1000 m2 1 – 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30

v   Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 – 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

 

  1. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
  2. Persiapan Persemaian

v  Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.

v  Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang. 2. Penyemaian

v  Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring

v   Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS

v  Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban 3. Pengamatan Hama & Penyakit

  1. Penyakit

v  Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk, disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 literair.

v  Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronosporaparasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.

v  Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

  1. H a m a

v  Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagianbawah atau lipatan pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.

v  Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.

v  Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

v  Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI

v  Ulat Grayak ( Spodoptera litura &S. exigua ), Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil ataulubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.

v  Bekicot/siput. Memakan tanaman,terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.

  1. FASE TANAM
  2. Pemilihan Bibit

v  Pilih bibit seragam, sehat, kuat dantumbuh mulus

v  Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur21 – 30 hari)

 

  1. Cara Tanam

v  Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.

v  Plastik polibag dilepas

v  Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki. 3. Pengamatan Hama

  1. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)

v  Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanamanatau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.

v  Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 :250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 – 4minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA =(500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.

v   Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.

v  Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 – 30 hr.

 

 

  1. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
  2. Pemanenan
  • Panen pertama sekitar umur 60-75hari
  • Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
  • Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandinganseperti diatas, dosis 500 cc/ph
  1. Cara panen :
  • Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
  • Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
  • Penyortiran dilakukan sejak di lahan
  • Simpan ditempat yang teduh

Sumber:

https://works.bepress.com/m-lukito/8/