Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik

Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik

Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik 

Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik
Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivistik

 

Yuleilawati (2004:54) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran

konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut:
  1. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya
  2. Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia
  3. Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman
  4. Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
  5. Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik, penilaian harus terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah.

Sedangkan menurut Siroj

(http://www.depdiknas.go.id/ Jurnal/43/rusdy-a-siroj.htm) ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis adalah :
  1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
  2. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
  3. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
  4. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
  5. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
  6. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar.

Pembelajaran konstruktivistik dapat dikenali melalui ciri-cirinya

yang antara lain sebagai berikut:
  1. Adanya kerjasama;
  2. Saling menunjang;
  3. Menyenangkan, tidak membosankan;
  4. Belajar dengan bergairah;
  5. Pembelajaran terintegrasi;
  6. Menggunakan bebagai sumber;
  7. Siswa aktif, sharing dengan teman;
  8. Siswa kritis, guru kreatif;
  9. Laporan kepada orang tua berwujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa, dll.
Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Dalam proses itu, menurut Glasersfeld (Suparno, 1997: 20), diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut: (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain.