Homo Floresiensis (Manusia dari Flores)

April 23, 2020 by Tidak ada Komentar

Homo Floresiensis (Manusia dari Flores)

Homo Floresiensis (Manusia dari Flores)

Manusia Liang Bua ditemukan oleh Peter Brown dan Mike J. Morwood pada bulan September 2003 lalu. Temuan itu dianggap sebagai penemuan spesies baru yang kemudian diberi nama Homo floresiensis, sesuai dengan tempat ditemukannya fosil manusia Liang Bua. Pada tahun 1950-an, Th. Verhoeven lebih dahulu menemukan beberapa fragmen tulang manusia di Liang Bua. Saat itu ia menemukan tulang iga yang berasosiasi dengan berbagai alat serpih dan gerabah. Tahun 1965, ditemukan tujuh buah rangka manusia beserta beberapa bekal kubur yang antara lain berupa beliung dan barang-barang gerabah.
Diperkirakan Liang Bua merupakan sebuah situs neolitik dan paleometalik. Manusia Liang Bua mempunyai ciri tengkorak yang panjang dan rendah, berukuran kecil, dengan volume otak 380 cc. Kapasitas kranial tersebut berada jauh di bawah Homo erectus (1.000 cc), manusia modern Homo sapiens (1.400 cc), dan bahkan berada di bawah volume otak simpanse (450 cc). Berdasarkan ukuran otak Homo Floresiensis maka beberapa ahli beranggapan bahwa fosil ini merupakan spesies yang lebih primitif dari pada Homo Sapiens dan berada pada variasi Homo Erectus. Namun, pendapat ini ditentang oleh kelompok peneliti seperti Prof. Teuku Jacob dari Universitas Gajah Mada. Menurutnya fosil Liang Bua ini berasal dari kelompok orang Katai Flores, yang sampai sekarang diteliti karena mengalami gangguan pertumbuhan yang disebut “Mikrosefali” (Kepala Kecil). Jadi menurut tim ini sisa manusia dari Liang Bua merupakan nenek moyang manusia Katai Homo Sapiens yang sekarang juga masih hidup di Flores dan termasuk kelompok Australomelanesoid. Kerangka yang ditemukan terbaring di Liang Bua itu menderita Mikrosefali, yaitu bertengkorak kecil dan berotak kecil
4) Homo Sapiens (Manusia yang Cerdas)
Manusia jenis ini muncul setelah lenyapnya manusia Homo Soloensis. Manusia ini dapat mencapai pulau-pulau di Indonesia dengan menggunakan perahu. Beberapa contoh mahluk yang termasuk Homo Sapiens adalah: ras Mongoloid, Australoid, Melanesoid, Kaukasoid, Weddoid, dan Kausanoid. Homo Sapiens diperkirakan muncul sekitar 20.000 tahun yang lalu. Mereka hidup dngan cara berburu dan mengumpulkan makanan, seperti akar-akaran, buah, dan sayur-sayuran liar serta kerang. Dalam pengembaraannya, mereka mengelompok sekitar 40-70 orang. Meski hidupnya masih mengembara, mereka mulai mempunyai keinginan hidup menetap. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bukit-bukit kerang (Kjokkenmodinger) pada bekas tempat tinggal mereka di sepanjang pantai wilayah sumatra. Mereka juga sudah mulai menetap tinggal di gua-gua (abris sous roche).

Ciri Kebudayaan Homo Sapiens

Manusia purba jenis ini belum mengenal cara menyimpan makanan, sehingga saat persediaan makanan habis, akan terjadi paceklik. Masa transisi dari kehidupan mengembara ke kehidupan menetap sudah mulai mengenal sistem pembagian kerja antara pria dan wanita. Tugas para wanita adalah menjaga anak, memasak dan mengumpulkan makanan. Tugas para pria berburu dan menjaga kelompok dari binatang buas. Homo Sapiens adalah jenis manusia baru yang muncul pada masa Mesolithikum atau zaman Batu Pertengahan. Pada masa itu, ada tiga jenis kebudayaan, yaitu Kapak Sumatera (Pabble Culture), kebudayaan Toala (Flakes Culture) dan Kebudayaan Tulang Sampung (Bone Culture).
baca juga :