Hubungan Suami dan Istri Pada Masa Iddah

Hubungan Suami dan Istri Pada Masa Iddah

Hubungan Suami dan Istri Pada Masa Iddah

Hubungan Suami dan Istri Pada Masa Iddah
Hubungan Suami dan Istri Pada Masa Iddah

Menurut petunjuk Al Qur’an dan Al Sunnah, wanita yang berada dalam iddah masih mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami yang mentalaknya.

1. Adanya larangan kawin dengan laki-laki lain

Allah berfirman Artinya : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan cara yang maruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, Karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, Maka sungguh ia Telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya ilu. dan bertakwalah kepada Allah serta Ketahuilah bahwasanya Allah Afaha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Bagarah : 231)

2. Adanya larangan meninggalkan rumah

Seorang wanita yang berada dalam iddah juga tidak dibenarkan meninggalkan rumah yang mereka diami selama perkawinan. Sebalik-nya, pria (suami yang mentalaq) Juga tidak dibenarkan mengusir istrinva tersebut.
Finnan Allah Artinya : Hai nabi, apabila kamu menceraikon Isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (dikinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perhuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya dia Telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang barn. (QS. Ath Thalaq : 1)

3. Al Hidad atau Al Mad

Seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dituntut supaya tidak berhias diri selama dalam iddah sebagi pernyataan ikut belasungkawa atas kematian suaminya. Sayyid Sabiq menyatakan bahwa wanita yang kematian suam wajib atas al hidad selama masa iddah.

4. Kewajiban nafkah atas suami

Para ulama sepakat bahwa wanita yang berada dahum iddah thalao raji’ berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal dari swami yang menthalaqnya. Meraka juga sepakat menyatakan bahwa hamil yang dicerai suaminya, baik dengan thalaq raji’ maupun talaq bain berhak mendapatkan nafkah dari suaminya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/