Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah
Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 336).
Internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standart tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian. Freud yakin bahwa superego, atau aspek moral kepribadian berasal dari internalisasi sikap-sikap parental (orang tua). (Chaplin, 2002 : 256).

Dalam proses internalisasi yang dikaitkan dengan pembinaan peserta didik atau anak asuh ada tiga tahap yang mewakili proses atau tahap terjadinya internalisasi (Muhaimin, 1996 : 153), yaitu:

a. Tahap Transformasi Nilai : Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh.
b. Tahap Transaksi Nilai : Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.

c. Tahap Transinternalisasi : Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif (Muhaimin, 1996 : 153).
Nilai-nilai yang diinternalisasikan adalah yang berkaitan dengan olah pikir (agar anak cerdas), olah hati (religius, jujur, bertanggung jawab), olahraga (bersihdan sehat), olah rasa dan karsa, peduli dan kreatif yang muaranya menuju nilai-nilai luhur dan perilaku berkarakter.
Proses internalisasi pendidikan kara

kter di sekolah tidak dapat dilakukan secara instan, namun secara bertahap sedikit demi sedikit dan dilakukan secara terus- menerus atau secara berkelanjutan. Dalam mengiternalisasi pendidikan karakter di sekolah-sekolah dapat dilakukan berbagai cara, tergantung dari sekolah tersebut dalam mengemasnya.

Contoh sekolah-sekolah yang menginternalisasikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya, diataranya:

1. Sekolah Dasar Insan Teladan, Bogor

Program- program SD Insan Teladan yang sangat berpengaruh terhadap perubahan karakter adalah duduk hening, integrasi nilai kemanusiaan kedalam mata pelajaran, dan kelas integrasi khusus yang menghubungkan satu tema tertentu dengan banyak mata pelajaran.
Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran seluruh siswa wajib mengikuti pelajaran, seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan duduk hening. Seperti namanya, siswa diajak duduk tenang bersila. Dalam keadaan mata terpejam, mereka mengatur nafas sembari meresapi makna kalimat-kalimat yang diungkapkan guru pembimbing mereka. Acara ini berlangsung selama sekitar 10 menit. Dalam duduk hening tersebut, siswa diminta menegakkan badan dan mengatur nafas secara perlahan-lahan dan berkosentasi.

2. MTs Negeri Kebumen 1

Salah satu sekolah menengah berbasis agama yang berada di kota Kebumen ini, menerapkan pendidikan karakter. Internalisasi pendidikan karakter pada sekolah ini melalui peraturan-peraturan baik tertulis maupun peraturan yang tidak tertulis. Selain melalui peraturan, dilakukan melalui para pendidiknya atau para guru dengan memasukan pendidikan karakter saat pelajaran, namun secara tersirat sehingga para peserta didik tidak menyadarinya.

Diantara proses internalisasi pendidikan karakter di MTs N Kebumen 1 adalah sebelum pelajaran dimulai berdoa terlebih dahulu dilanjutkan pembacaan juz amma. Hal ini dilakukan secara terus-menerus. Sehingga peserta didik akan terbiasa berdoa ketika hendak melakukan apapun. Ketika pelajaran guru disamping menyampaikan materi juga memberikan pendidikan karakter berupa nilai-nilai moral kehidupan yang diselipkan pada saat penyampaian materi.
Pendidikan karakter banyak disampaikan para guru kepada peserta didiknya. Dengan demikian para guru menjadi contoh para peserta didiknya.

3. MAN Insan Cendekia Serpong

Sekolah yang berbasis agama ini, mananankan dan mengembangkan pendidikan karakter yang kuat. Kebiasaan yang ditanamkan para siswa MAN Insan Cendekia yang sudah menjadi karakter diantara adalah salam, senyum dan sapa. Karakter itu ditanamkan sejak awal masuk menjadi siswa MAN Insan Cendekia, setiap bertemu dengan teman, guru, CS atau siapa pun harus memberi salam, senyum dan menyapa. Di awal-awal banyak siswa yang masih kaku karena belum terbiasa, namun seiring dengan berjalannya waktu dan di lakukan setiap hari, salam, senyum dan sapa melekat kuat pada siswa. Tidak hanya di sekitar sekolah saja diluar sekolah ketika berada dilingkungan masyarakat karakter itu terbawa.

MAN Insan Cendekia merupakan sekolah yang menerapkan sekolah dengan wajib berasrama. Setiap siswa yang diterima sekolah disana wajib berasrama dan mematuhi semua peraturan yang ditetapkan. Pada sekolah ini terdapat peraturan-peraturan yang bertujuan untuk membentuk karakter siswanya.

Beberapa peraturan yang di tetapkan pada MAN Insan Cendekia antara lain

1. Wajib mengikuti pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Bagi siswa yang asben tidak mengikuti pelajaran, mudah untuk mengontrol keberadaan siswa tersebut karena termasuk lingkungan berasrama.
2. Saat ulangan dilarang mencontek baik pekerjaan teman ataupun mencontek dari buku. Jika mencontek konsekuensinya nilainya nol (0). Sehingga siswa akan berfikir panjang dulu jika mau menyontek saat ulangan. Peraturan ini berhasil diterapkan di MAN Insan Cendekia. Peraturan ini membuat suasana saat ulangan berlangsung tenang, gurupun tidak perlu lagi menunggu siswanya yang sedang ulangan, karena nilai tidak mencontek sudah menjadi karakter yang membudaya. Guru sudah memberi kepercayaan kepada siswanya, begitupun siswanya memegang kapercayaan itu.
3. Sebelum masuk jam pelajaran, semua siswa berkumpul dulu di depan asrama untuk melakukan apel pagi. Apel pagi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengecek apakah semua siswa sudah berangkat atau belum. Peraturan yang seperti ini demi membentuk karakter disiplin bagi siswa.
4. Reguler atau izin keluar diberikan sekali setiap dua minggu dengan berselang seling laki-laki dan perempuan. Peraturan ini dibuat dengan tujuan agar para siswanya disiplin, dan mencegah pertemuan laki-laki dan perempuan.
5. Menghormati orang yang lebih tua, dengan memberi salam jika bertemu, menyapa dan tersenyum.
6. Setiap hari siswa ditanamkan karakter dengan wajib solat lima waktu bejamaah dimasjid. Jika melanggar peraturan itu akan mendapat sanksi yang sudah ditetapkan.

Selain internalisasi karakter seperti yang dicontohkan diatas dalam bentuk peraturan umumnya, proses internalisasi dapat dilakukan dengan menyelipkan saat pelajaran berlangsung tanpa siswa diketahui oleh para siswanya, jika sang guru sedang memberikan pendidikan karakter. Untuk contoh: ketika sedang pelajaran geografi, tugas guru selain menyampaikan materi juga memberikan pendidikan karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang sedang diajarkan.
Pendidikan karakter di sekolah memili tujuan sebagai berikut:
1. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/ kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.
2. Mengoreksi perilaku peserta didik yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.

Baca Juga: