Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam

Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam

Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam

Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam
Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam

Konsep Kebudayaan Dalam Islam

Secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi, ciptarasa, karsa, dan karya manusia. Kebudayaan adalah hasil olah akal, budi, ciptarasa, karsa, dan karya manusia yang tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Hasil olah akal, budi, rasa dan karsa yang telah terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang universal berkembang menjadi sebuah peradaban. Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri. Disini agama berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau peradaban islam.
Sehubungan dengan hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan atau disebut sebagai peradaban Islam, maka fungsi agama disini akan semakin jelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia itu sendiri mengalami kebekuan karena keterbatasan dalam memecahkan persoalan kehidupannya sendiri, disini akan sangat terasa akan perlunya suatu bimbingan wahyu.
Allah mengangkat seorang Rasul dari jenis manusia karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat manusia. Oleh sebab itu misi utama Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul adalah memjadi rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam. Mengawali tugas kerasulannya, Nabi meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam yang kemudian berkembang menjadi peradaban Islam. Ketika dakwah Islam keluar dari jazirah Arab, kemudian tersebar keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjang dan rumit, yaitu asimilasi budaya-budaya setempat dengan niali-nilai Islam yang kemudian menghasilkan kebudayaan Islam. Kebudayaan ini berkembang menjadi suatu  peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.

Sejarah Intelektual Islam

Dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution, dilihat dari segi perkembangannya, sejarah intelektual Islam dapat dikelompokkan kedalam tiga masa, yaitu masa klasik, yaitu antara tahun 650-1250 M, masa pertengahan, yaitu tahun 1250-1800 M, dan masa modern, yaitu sejak tahun 1800-sampai sekarang. Pada masa klasik lahir ulama mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafii dan Imam Maliki. Sejalan dengan itu lahir pula para filosof muslim, seperti Al-Kindi tahun 801 M, seorang filosof pertama muslim. Diantara pemikirannya, ia berpendapat bahwa kaum muslimin hendaknya menerima filsafat sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Selain Al-Kindi, pada abad itu lahir pula para filosof besar seperti Al-Razi lahir tahun 865 M, Al-Farabi lahir 870 M. Dia dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Pada abad berikutnya lahir pula filosof agung Ibnu Maskawaih pada tahun 930 M. Pemikirannya yang terkenal tentang Pendidikan Akhlak. Kemudian Ibnu Sina tahun 1037 M. Ibnu Bajjah tahun 1138 M. Ibnu Tufail tahun 1147 M. Ibnu Rusyd tahun 1126 M.
Pada masa pertengahan, yaitu tahun 1250-1800 M. dalam catatan sejarah pemikiran Islam masa ini merupakan fase kemunduran, karena filsafat mulai dijauhkan dari umat Islam sehingga ada kecenderungan akal dipertentangkan dengan wahyu, iman dengan ilmu, dunia dengan akhirat. Pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Sebagian pemikir Islam kontemporer melontarkan tuduhan kepada Al-Ghazali yang pertama menjauhkan filsafat dengan agama sebagaimana dalam tulisannya “Tahafutul Falasifah” (kerancuan filsafat). Tulisan Al-Ghazali dijawab oleh Ibnu Rusyd dengan tulisan “Tahafutu Tahafut” (kerancuan diatas kerancuan).
Pada saat ini ada pertanyaan mendasar yang sering dilontarkan oleh para intelektual muda muslim. Mengapa umat Islam tidak bisa menguasai ilmu dan teknologi modern? Jawabannya sangat sederhana, yaitu karena orang Islam tidak mau melanjutkan tradisi keilmuan yang diwariskan oleh para ulama besar pada masa klasik. Pada masa kejayaannya banyak terbuai dengan kemegahan yang bersifat material. Sebagai contoh kasus pada zaman modern ini tidak lahir para ilmuan dan tokoh-tokoh ilmu kaliber dunia yang lahir dari negara-negara kaya di Timur Tengah.

Mesjid Sebagai Pusat Peradaban Islam

Mesjid pada umumnya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus seperti shalat, padahal mesjid berfungsi lebih luas dari pada sekedar tempat shalat. Sejak awal berdirinya mesjid belum bergeser dari fungsi utamanya, yaitu tempat shalat. Akan tetapi perlu diingat bahwa mesjid di zaman Nabi berfungsi sebagai pusat peradaban. Nabi Muhammad Saw mensucikan jiwa kaum muslimin, mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hikmah, bermusyawarah untuk menyelesaikan berbagai persoalan kaum muslimin membina sikap dasar kaum muslimin terhadap orang yang berbeda agama atau ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru dari mesjid. Mesjid dijadikan simbol persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan mesjid pertama, fungsi mesjid menjadi kokoh orisinal sebagai pusat peribadatan dan peradaban. Sekolah-sekolah dan universitas-universitas kemudian bermunculan, justru dari mesjid. Mesjid Al-Azhar di Mesir merupakan salah satu contoh yang sangat dikenal luas kaum muslimin di Indonesia. Mesjid itu mampu memberikan beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan pengentasan kemiskinanpun merupakan program nyata mesjid.
Pada saat ini kita sangat sulit menemukan mesjid yang memiliki program nyata dibidang pencerdasan keberagaman umat. Kita (mungkin) tidak akan menemukan mesjid yang memiliki kurikulum terprogram dalam pembinaan keberagaman umat, terlebih-lebih lagi mesjid yang menyediakan beasiswa dan upaya pengentasan kemiskinan. Dalam perkembangan berikutnya muncul kelompok-kelompok yang sadar untuk mengembalikan fungsi mesjid sebagaimana mestinya. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan pentingnya peranan mesjid untuk mencerdaskan dan mensejahterakan jamaahnya. Menurut ajaran Islam, mesjid memiliki dua fungsi utama, yaitu (1) sebagai pusat ibadah ritual dan (2) berfungsi sebagai ibadah sosial. Dari dua fungsi tersebut titik sentralnya bahwa fungsi utama mesjid adalah sebagai pusat pembinaan umat.

Nilai-Nilai Islam Dalam Budaya Islam

Islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayanya. Karena Islam besar di Arab, maka Islam yang masuk ke Indonesia tidak lepas dari budaya Arabnya. Pada awal-awal masuknya dakwah Islam ke Indonesia dirasakan sangat sulit membedakan mana ajaran Islam dan mana budaya Arab. Masyarakat awam menyamakan antara perilaku yang ditampilkan oleh orang Arab dengan perilaku ajaran Islam. Seolah-olah apa yang dilakukan oleh orang Arab itu, semuanya mencerminkan ajaran Islam, bahkan hingga kini budaya Arab masih melekat pada tradisi masyarakat Indonesia.
Dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia, para da’i mendakwahkan ajaran Islam melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para wali ditanah Jawa. Karena kehebatan para wali Allah dalam mengemas ajaran Islam dengan bahasa budaya setempat, sehingga masyarakat tidak sadar nilai-nilai Islam  telah masuk dan menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih jauh lagi bahwa nilai-nilai Islam sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan mereka. Seperti dalam upacara-upacara adat dan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa Al-Qur’an/Arab sudah banyak masuk kedalam bahasa daerah bahkan dalam bahasa indonesia yang baku. Semua itu tanpa disadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ajaran Islam.
Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/