Langkah Pembelajaran Konstruktivistik

Langkah Pembelajaran Konstruktivistik

Langkah Pembelajaran Konstruktivistik

Langkah Pembelajaran Konstruktivistik
Langkah Pembelajaran Konstruktivistik
Paul Suparno (1997 : 69-70) menjelaskan beberapa ciri mengajar konstruktivistik adalah sebagai berikut :

1) Orientasi.

Murid diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik dan murid di beri kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.

2) Elicitasi. 

Murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar atau poster.

3) Restrukturisasi ide yang terdiri dari tiga hal yaitu :

  • Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau lewat teman diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk merekonstruksi gagasannya kalau tidak cocok dan sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok.
  • Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan teman-teman.
  • Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Kalau dimungkinkan ada baiknya bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan suatu percobaan atau persoalan yang baru.

4) Penggunaan ide dalam banyak situasi.

Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapai. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap dan bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualiannya.

5) Review, bagaimana ide itu berubah.

Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambahkan suatu keterangan ataupun mungkin dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap.
Dari langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kostruktivistik di atas maka tugas guru adalah menjadi mitra yang aktif bertanya, merangsang pemikiran, menciptakan persoalan, membiarkan pebelajar mengungkapkan gagasan atau konsepnya, serta kritis menguji konsep siswa. Yang terpenting adalah menghargai dan menerima pemikiran siswa apapun adanya sambil menujukkan apakah pemikiran itu jalan atau tidak. Guru harus menguasai bahan secara luas dan mendalam sehingga dapat lebih fleksibel menerima gagasan siswa yang berbeda.