Macam-Macam Peminangan

Macam-Macam Peminangan

Macam-Macam Peminangan

Peminangan terdapat dua cara, yaitu:

1. Khitbah yang dilakukan secara terang-terangan

artinya pihak laki-laki menyatakan niatnya untuk mengawininya dengan permohonan yang jelas atau terang. Misalnya “Aku ingin mengawinimu” Hal ini dapat dilakukan kapada wanita yang habis iddah nya dan wanita yang masih sendirian statusnya.

2. Khitbah yang dilakukan secara sindiran

Artinya peminang dalam mengungkapkan keinginanya tidak menggunakan kalimat yang jelas yang dapat dapat dipahami. Misalnya “Kamu sudah sepantasnya untuk menikah”. Meminang dengan kata Kinayah ini Haram Apabila wanita itu dalam keadaan iddah talak Raj’i. Dan Boleh apabila wanita itu dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya.

G. Pembatalan peminangan

Dalam hal peminangan, meskipun status hukumnya belum mengikat dan belum pula menimbulkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh salah satu pihak, namun seseorang itu tidak diperbolehkan membatalkannya tanpa adanya alasan-alasan yang rasional dan harus dilakukan dengan cara yang baik (dibenarkan oleh syara’).

Pada saat meminang, lazimnya ada pemberian atau hadiah yang diberikan kepada pihak yang dipinang. Pemberian ini harus dibedakan dengan mahar. Mahar adalah suatu pemberian dari calon suami kepada calon istri dengan sebab nikah. Sedangkan pemberian ini termasuk dalam pengertian hadiah atau hibah. Oleh karena itu akibat yang ditimbulkan oleh pemberian hadiah, berbeda juga dengan pemberian dalam bentuk mahar. Jika peminangan tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan memang tidak masalah, namun bila tidak, maka diperlukan penjelasan tentang status pemberian tersebut.

Khitbah (Peminangan) dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia

Undang-undang Perkawinan sama sekali tidak membicarakan peminangan. Hal ini mungkin disebabkan peminangan itu tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan perkawinan. Peminangan di Indonesia, diatur dalam KHI bab 1 (ketentuan umum) pasal 1 huruf a, dan bab III tentang peminangan pasal 11-13.
Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam Pasal 1 Bab 1 huruf a bahwa pengertian peminangan adalah kegiatan upaya kearah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dan seorang wanita denagan cara-cara yang baik (ma’ruf). Peminangan langsung dapat dilakukan oleh orang yang berkehendak mencari pasangan jodoh tapi dapat pula dilakukan oleh perantara yang dapat dipercaya (pasal 11 KHI).
Pasal 12 ayat (1) KHI menjelaskan bahwa peminangan dapat dilakukan terhadap seorang wanita yang masih perawan atau terhadap janda yang telah habis masa iddahnya. Ini dapat dipahami sebagai syarat peminangan. Selain itu wanita yang dipinang haruslah tidak terdapat halangan sebagai berikut, KHI pasal 12 ayat (2), (3), dan (4).
· Ayat (2): wanita yang ditalak suami yang masih berada dalam masa iddah raj’iah, haram dan dilarang untuk dipinang.
· Ayat (3): dilarang juga meminang seorang wanita yang sedang dipinang pria lain, selama pinangan pria tersebut belum putus atau belum ada penolakan dan pihak wanita.
· Ayat (4): putusnya pinangan untuk pria, karena adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan atau secara diam-diam. Pria yang meminang telah menjauhi dan meninggalkan wanita yang dipinang.
Pada prinsipnya apabila peminangan telah dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap seorang wanita, belumlah berakibat hukum. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam KHI pasal 13 ayat:
1. Pinangan belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan peminangan.
2. Kebebasan memutuskan hubungan peminangan dilakukan dengan tata cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan kebiasaan setempat, sehingga tetap terbina kerukunan dan saling menghargai.

Baca Juga: