Majemuk masyarakat berdasarkan profesi

Majemuk masyarakat berdasarkan profesi

Penggolongan sosial atau penggolongan masyarakat bisa  didasarkan pada profesi atau pekerjaan. Profesi adalah pekerjaan yang menuntut pengetahuan dan keterampilan khusus. Misalnya, orang yang berprofesi sebagai guru harus mempunyai keterampilan untuk mengajar dan mendidik para murid.

Karena adanya profesi yang bermacam – macam itu, maka masyarakat kemudian dapat dikelompokan menjadi masyarakat yang berprofesi sebagai guru, dokter, petani, tentara, pedagang, buruh, dan sebagainya. Perbedaan profesi dapat menyebabkan perbedaan cara orang bertindak, cara orang berinteraksi, di lingkungan nya. Misalnya, cara seseorang guru bertindak dan berinteraksi di mayarakat tentu berbeda dengan cara seorang dokter bertindak dan berinteraksi.

Adanya macam – macam golongan sosial dalam suatu masyarakat seperti ini menyebabkan masyarakat menjadi majemuk, terdiri dari berbagai macam orang dari berbagai suku bangsa, profesi, agama, ras, dan jenis kelamin.

Berkaitan dengan penjelasan kelompok sosial di atas, berikut ini  struktur sosial yang ada dalam masyarakat multikultural :

o        Sturktur sosial yang terinterseksi (intersected soial structure)

Kelompok sosial yang ada dalam masyarakat dapat menjadi wadah beraktivitas dari orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, agama, dan ras serta aliran. Dalam bentuk struktur sosial yang demikian keanggotaan para anggota masyarakat dalam kelompok sosial yang ada saling silang-menyilang sehingga terjadi loyalitas yang juga silang menyialng (cross cuting affilation dan cross cutting loyalities). Bentuk struktur yang terinterseksi mendorong terjadinya integrasi sosial dalam masyarakat multikultural.

o        Struktur sosial yang terkontrolidasi (consolidated social stucture)

Dalam bentuk struktur yang demikian, kelompok-kelompok  sosial yang ada hanya mewadahi orang-orang yang berlatar belakang suku, bangsa, agama, ras dan aliran yang sama, sehingga terjadi tumpang tindih parameter dalam pemilihan struktur sosial. Orang Bali akan identik dengan orang Hindu, orang Melayu identik dengan orang Islam, partai tertentu identik dengan orang Islam, partai yang lain identik dengan orang Kristen, dan seterusnya. Bentuk struktur sosial yang semacam ini akan menghambat terjadinya integritas sosial dalam masyarakat multikultural, karena akan terjadi pertajaman prasangka antar-kelompok. Stuktur sosial terpilih dengan parameter yang tumpang tindih dengan pemilihan berdasarkan agama, ras, aliran atau kelas-kelas sosial dan ekonomi. Ikatan dalam kelompok dalam akan sangat kuat, tetapi akan menimbulkan prasangka terhadap kelompok luarnya.

Sumber: https://carbomark.org/