Materi Prasangka Buruk

April 12, 2020 by Tidak ada Komentar

Materi Prasangka Buruk

Materi Prasangka Buruk

  1. Pengertian

Prasangka buruk dalam Islam disebut su’ul zhan (سوء الظنّ). Lawannya adalah husnul zhan (حسن الظنّ) yaitu prasangka baik atau berbaik sangka. Prasangka buruk merupakan pendapat anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui, menyaksikan, atau menyelidiki sendiri. Hal ini sebenarnya dapat merusak ukhuwah dan tali silaturrahim, karena dapat menimbulkan fitnah dan itu dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, hal ini sangat ditentang dalam Islam. Bahkan Allah mengumpamakan dosa fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

1.Azbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa ayat ini ( Qs. Al _ hujarat ( 12) turun berkenaan dengan Salman Al – Farisi yang apabila ia telah selesai makan maka ia suka langsung tidur , dan mendengkur . pada waktu itu ada orang yang menggunjingi perbuatannya maka turunlah ayat ini ( Q.S. Al – Hujurat 12 ) yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan aib orang lain

2.Tafsir Mufrodat ( Kata – Kata Kunci )

  1. Kata Ijtanibu ( اجتنيبوا) di abbil dari kata jenabah ( جنب) yang berarti samping mengesampingkan sesuatu berarti menjauhkan dari jangkauan tangan . Dari sini kata tersebut diartikan jauhi penambahan huruf tha’ )ت) pada kata tersebut berfungsi penekanan yang menjadikan kata ijtanibu berarti bersungguh – sungguh , upaya sungguh snguh untuk menghindari prasangka buruk
  2. Kata Katsiran ( كثيرا ) / banyak bukan berarti kebanyakan sebagai mana di pahami atau di terjemahkan sementara oleh para mufassir .tiga dari sepuluh menurut para mufassir sudah berarti banyak , sedangkan enam dari sepuluh berarti kebanyakan atau banyak sekali . jika demikian bisa saja “ banyak dari dugaan adaklah dosa dan banyak pula yang bukan dosa yang bukan dosa adalah yang dermikian bisa saja banyak dari dugaan adalah dosa dan banyak pula dugaan yang tidak dosa * dugaan yang mengakibatkan dosa adalah dugaan yang mengantarkan seseorang menuju keharaman atau kkepada sesuatu yang di haramkan baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan .dugaan yang bukan disa adalah rincian hokum- hokum keagamaan . karena ada sebagian hukum- hukum keagamaan berdasarkan kepada argumentasi yang inter pretasinya bersifat dzanni (dugaan ) dan tentu saja apa yang berdasarkan dugaan hasilnyapun adalah dugaan .
  3. kata ( تجسسوا ) tajassasu terambil dari kata ( جس ) jassa ,yakni upaya mencari tahu dengan cara tersembunyi . dari sini mata- mata dinamakan ( جاسوس ) jasus
  4. 4. kata ( يغتب) yaghtab terambil dari kata ( غيبة) ghibah yang berasal dari kata ( غيب) ghaib yakni tidak hadir .
  5. 5. kata ( التواب) attawwab sering kali diartikan penerima taubat , tetapi arti ini belum mencerminkan secara penuh kandungan kata tawwab , walaupun kita tidak dapat menilainya keliru .

3.Kandungan Pokok Ayat .

  1. Menggambarkan betapa buruknya menggunjing
  2. ayat ini mencerminkan apa yang pada hakekatnya tidak di senangi *
  3. ayatini juga mempertanyakan kepada setiap orang “sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya sendiri
  4. ayat ini juga menegaskan bahwa saudara itu dalam keadaan mati yakni tidak bisa membela diri

4.Pandangan Para Mufassir Dan Analisis

Dalam komentarnya tentang bahaya berburuk sangka dan hasud atau menggunjing

Thabathaba’I mengatakan bahwa ghibah merupakan perusakan bagian dari masyarakat satu persatu sehingga dampak positif yang diharapkan dari wujuudnya suatu masyarakat menjadi gagal dan berantakan . yang diharapkan dari wujudnya masyarakat adalah hubungan harmonis antar masyarakat dimana setiap orang dapat bergaul dengan penuh rasa aman dan damai masing- masing orang mengenal anggauta masyarakat lainnya sebagai seorang manusia yang di senangi tidak di benci atau dihindari .adapun bila seseorang di kenal dengan sifat yang mengundang kebencian atau memperkenalkan aibnya maka akan terputus hubungan dengan orang itu sebesar kebencian atau aib yang ia tebarkan dan ini pada gilirannya akan melemahkan hubungan kemasyarakatan sehingga gunjingan tersebut bagaikan rayap yang mengotori anggauta badan yang digunjing sedikit demi sedikit sehingga berahir dengan kematian

Menurut Thabathaba’I tujuan manusia dalam usahanya membentuk masyarakat adalah agar masing- masing orang yang hidup didalamnya dapat dikenal dengan suatu idenditas yang baik sehinga mereka dapat berinteraksi sosial dengan baik . menggunjing dapat mengakibatkan masyarakat kehilangan idenditasnya serta menjadikan salah seorang dari anggauta masyarakat itu tidak berfunfsi sebagai mana yang di harapkan dan jika budaya menggunjing ini meluas maka pada akhirnya berbalik dari kebaikan kepada keburukan sehingga sirnalah ketenangan , keamanan dan kedamaian .

Menurut Thabathaba’I ( ulama’ yang beraliran syiah ) Dia memperoleh kesan dari saudaranya dalam kontek larangan bergunjing larangan bergunjing haya berlaku jika yang digunjing adalah seorang muslim karena persaudaraan yang di kenal disini adalah persaudaraan seiman pendapat yang serupa telah di kemukakan oleh ulama lainnnya.


Sumber:

https://duniabudidaya.co.id/pengertian-evolusi-dan-revolusi/