Mencari dan Menggali Potensi dalam Kekurangan

Mencari dan Menggali Potensi dalam Kekurangan

Mencari dan Menggali Potensi dalam Kekurangan

Mencari dan Menggali Potensi dalam Kekurangan
Mencari dan Menggali Potensi dalam Kekurangan

Kemendikbud — Pada dasarnya tak ada satupun manusia yang terlahir sempurna

. Semua memiliki kekurangan. Namun, di setiap kekurangan, tuhan selalu menyertakan kelebihan untuk makhluknya, tergantung bagaimana cara kita melihat dan menyikapi hal tersebut. Seperti Afifah, ibu dari seorang anak perempuan penyandang disabilitas tunanetra, Allafta Hirzi Sodiq atau yang biasa dipanggil Zizi.

Sejak kecil Zizi sudah tak memiliki penglihatan seperti yang lain. Namun Sang Ibu, Afifah

selalu meyakini bahwa di setiap kekurangan pasti ada kelebihan. Ia dan suaminya berusaha memancing untuk mencari tahu apa potensi dari anak yang kini duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar.

“Aku browsing kelebihan tunanetra tuh apa? Ternyata kelebihan tunanetra itu biasanya di seni. Akhirnya, aku dan suami membeli alat-alat musik dan ditaruh di depan kamarnya dia, dari mulai gitar, angklung, keyboard hingga akhirnya ketemu kalau tertariknya di keyboard,” tutur Afifah.

Sejak saat itu, ketika usianya menginjak tiga tahun, Zizi belajar

secara autodidak tentang alat musik dan harmoni. Hobi bermusiknya terus ditekuni sampai ia memasuki Taman Kanak-kanak di usianya yang saat itu menginjak lima tahun. Pada saat itu, anak yang bercita-cita menjadi pianis terkenal ini mulai belajar untuk bernyanyi bersama teman-temannya.

Orang tua Zizi pun sangat mendukungnya. Mereka kerap kali mengikutsertakan anak sulungnya ini di kompetisi musik, baik nasional maupun internasional. “Pertama langsung di kompetisi internasional. Saya mendaftar, tetapi dengan catatan tidak dinilai,” ucapnya. Ia ingin menunjukkan kepada dunia kemampuan yang dimiliki Zizi.

Kini telah banyak penghargaan yang didapatkan oleh Zizi. Di tahun 2017, ia memperoleh penghargaan tingkat nasional menyanyi solo tingkat Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) di Surabaya. Kemudian Diamond Award pada Festival Piano Indonesia di Jakarta, Medali Emas pada Asia Art Festival kelima di Singapura, serta The Best Inspiring Survivor Outstanding Talent dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Di akhir, Afifah sempat berbagi tips dalam mencari dan menggali potensi anak. “Sebenarnya yang pertama harus dilakukan orang tua adalah “Menerima”, lalu belajar apa yang anak anak butuhkan. Untuk saya, saya bisa baca tulis braille jauh sebelum Zizi sekolah. Saya menjadi guru untuk dia,” jelasnya. (Aji Shahwin)

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/15816/0/115984