Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu

Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu

Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu

Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu
Menyiapkan Enam Bekal Mencari Ilmu

APABILA seorang peserta didik sedang mencari ilmu, maka jangan pernah merasa resah

, gelisah, dan putus asa jika banyak rintangan dan halangan yang datang. Itulah romantika dan sekaligus tantangan dalam mencari ilmu. Dengan adanya rintangan dan tantangan itu, maka menjadikan peserta didik tersebut tahan banting dan tidak mudah patah semangat di masa yang akan datang.

Lalu, apakah ilmu yang dicari ilmu akan mudah dicari dan didapatkan dengan cara belajar dan banyak membaca buku? Bisa jadi. Namun, mari kita simak nasihat Ali bin Abi Thalib di dalam Ta’lim Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji, sahabat Ali berkata bahwa peserta didik tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali dengan dorongan enam perkara, yakni:

Pertama, punya kecerdasan. Cerdas dalam arti punya kemampuan untuk bisa menangkap pelajaran

yang diberikan oleh guru-guru di kelas. Tidak pernah merasa putus asa dan selalu mencintai apapun yang sedang diajarkan oleh guru dari sisi yang positif. Dengan bekal cerdas dan mencintai pelajaran, maka ilmu itu akan mudah diserap oleh otak.

Kedua, punya semangat. Tidak cukup cerdas saja, melainkan semangat juga perlu dihadirkan sebagai satu di antara bekal yang harus dimiliki. Bagaimana ilmu akan cepat didapatkan bila semangat di dalam jiwa kita melempem, layu, dan loyo. Kesuksesan akan menjauh dari peserta didik yang tidak punya semangat dalam belajar. Ia akan miskin ilmu dan harta.

Ketiga, punya kesabaran. Belajar dan mencari ilmu itu adalah tahapan proses atau suatu rangkaian yang dimulai dari bawah terus sampai ke puncak. Orang-orang yang sukses, ulama-ulama saleh zaman dahulu, mereka bisa meraih dan mendapatkan ilmu yang tinggi karena faktor sabar dan tekun dalam mencarinya. Tidak ada yang ujug-ujug bias. Semua itu pasti mengalami tahapan yang harus dilewati.

Keempat, punya modal dan bekal belajar. Jika ingin sukses dalam mencari ilmu,

tidak cukup hanya dengan cerdas, semangat, sabar, tetapi juga harus punya bekal. Misalnya dalam bentuk materi, buku, dan sebagainya. Jangan pernah beranggapan bahwa mencari ilmu itu mudah dan gampang bermodalkan duduk di bangku lalu mendengarkan guru. Tambahkan satu lagi dorongannya yaitu adanya bekal.

Kelima, adanya petunjuk/bimbingan guru. Jika kita sulit menyerap ilmu, tidak kuat dengan hafalan, kurang paham masalah penyelesaian masalah, maka jangan pernah lepas dari petunjuk atau bimbingan bapak dan ibu guru. Merekalah yang akan berperan sebagai pembimbing sekaligus orangtua yang akan mengarahkan anak didiknya dalam membantu mendapatkan ilmu. Maka dari itu, hormati mereka agar selalu ikhlas dalam membimbing anak didiknya.

Keenam, membutuhkan waktu dan proses. Apakah Imam Al-Bukhari menyusun kitab Shahih-nya itu sehari dua hari atau satu dua tahun? Oh tidak. Beliau menyusun kitab hadis terkenal itu sampai bertahun-tahun lamanya. Artinya, untuk menggapai kesuksesan dalam mencari ilmu butuh waktu yang tidak sebentar, karena ilmu terkadang butuh dipelajari lebih dalam lagi dari sekadar dibaca. Tidak simsalabim langsung dapat dan sukses menjadi orang hebat.

 

Baca Juga :