PANDANGAN TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID TENTANG TAFSIR AL-QUR’AN DAN HADIST.          

PANDANGAN TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID TENTANG TAFSIR AL-QUR’AN DAN HADIST.

Alas an ahlussunnah wal jamaah Nahdlatul Wathan terdorong  lebih memilih mazhab imam Safi’I dari mazhab mazhab lainnya seperti mazhab Abu Hanifah, Maliki dan Ahmad tersebut lantaran  secara garis besar, mereka memandang bahwa mazhab Imam Syafi’I mempunyai sandaran istinbat hokum yang sangat kuat, yakni: Al-qur’an dan Al-hadist sebagai basis utama. Jika tidak di dapat di dalamnya,maka boleh dilakukan ijtihad secara aqliyah (akal) dengan metode khusus yang tetap mempertimbangkan dalil naqli.

  1.  PANDANGAN TGKH. MUHAMMAD ZAINUDIN ABDUL MAJID TENTANG MAZHAB FIQIH.

Pokok-pokok ajaran dan paham berfiqih dalam ahlussunnah wal jamaah Nahdlatul Wathan menggunakan pola mazhab, yaitu hanya mengikuti mazhab imam AL- Syafi’I, salah satu dari empat mazhab, yaitu: mazham imam Abu hanifah,mazhab imam Ahmad,dan mazhab imam Maliki Bin Anas.

Meskipun para tokoh Nahdlatul wathan hanya mengikuti mazhab imam Al-Syafi’I bukan berarti tidak boleh di ikuti yang lainnya. Dalam beberapa hal mereka juga mengikuti mazhab, seperti mazhab Imam Abu Hanifah,mazhab Imam Maliki  bin anas, dan mazhab Ahmad Bin Hambal. Meskipun demikian, di kalangan warga Nahdlatul Wathan tetap di tegaskan bahwa taqlid di utamakan kepada mazhab imam Al-Syafi’i. mereka memberikan alas an karena pendapat yang di nisbatkan kepada mereka (mazhab selain imam al- Syafi’i) adalah kurang valid lantaran tidak adanya sanad yang dapat menghindari terjadinya perubahan dan pergantian (lihat Nu’man dan Asyi’ari,1998).   

             {Dr.Baharuddin.MA.2007. Nahdlatul wathan dan perubahan social.Yogyakarta. Gentra Press.)

 

Pos-pos Terbaru