Perubahan Ekosistem Dan Dampaknya

April 12, 2020 by Tidak ada Komentar

Perubahan Ekosistem Dan Dampaknya

Perubahan Ekosistem Dan Dampaknya

Ekosistem tidaklah   statis tetapi   bersifat   dinamis.   Perubahan   ekosistem  dapat   terjadi karena faktor    alam,    misalnya    letusan    gunungapi,    gempa   dan    lain-lain,  Perubahan tersebut memaksa ekosistem melakukan adaptasi dan membangun kembali keseimbanganya yang baru. Namun, perubahan lainnya saat ini lebih dominan, yaitu karena ulah manusia. Perubahan karena faktor manusia semakin kuat dan ekosistem sulit untuk dipulihkan seperti sediakala.

  1. Perubahan ekosistem daratan dan dampaknya

Ekosistem daratan saat ini telah mengalami perubahan besar-besaran, terutama oleh manusia. Ekosistem hutan, misalnya telah mengalami perubahan yang sangat berarti dari tahun ke tahun. Dari tahun 1980 sampai 1995 negara-negara berkembang telah kehilangan 200 juta hektar hutannya. World Resource Institute melakukan estimasi bahwa dari tahun 1960 sampai 1990 sebesar 1/5 luas hutan hujan tropis telah berkurang. Hilangnya habitat hutan diprediksikan memicu 89 persen jenis burung dunia terancam punah, diikuti 83 persen jenis mamalia, dan 91 persen jenis tumbuh-tumbuhan dunia masuk daftar kepunahan berikutnya.

Perubahan ekosistem daratan, baik berupa hutan, padang rumput dan lain-lain berdampak negatif terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak tersebut diantaranya adalah:

  • Munculnya ledakan populasi pada spesies tertentu karena hilang atau punahnya hewan pemangsa. Spesies yang bertambah jumlahnya dapat mengganggu aktivitas manusia, khususnya aktivitas pertanian. Contoh, berkurangnya jumlah ular mengakibatkan meledaknya populasi tikus.
  • Munculnya hama dan penyakit karena adanya spesies yang mengalami ledakan populasi. Besarnya spesies membutuhkan sumber makanan yang sebagian diperolehnya dari ladang atau kebun petani.
  • Semakin seringnya terjadi bencana alam, baik berupa banjir, longsor, kekeringan dan lain-lain. Rusaknya ekosistem hutan mengakibatkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Punahnya sejumlah spesies tertentu karena sumber makanannya hilang terutama akibat perburuan oleh manusia.
  • Semakin terbatasnya sumber pangan dan obat-obatan dilihat dari jumlah dan jenisnya.
  1. Perubahan ekosistem perairan dan dampaknya

Sebagaimana ekosistem dataran, ekosistem perairan, baik laut, danau, sungai, estuari dan lain-lain juga sedang mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi karena campur tangan manusia, sehingga mengubah tatanan yang ada. Akibatnya, terjadi kerusakan yang berdampak pada manusia dan makhluk hidup lainnya.

  1. Perubahan ekosistem laut

Perubahan ekosistem laut terjadi karena beberapa hal. Pertama, eksploitasi sumber daya    laut,    khususnya    ikan    secara    berlebihan    (overfishing).   Kemajuan    IPTEK    telah memungkinkan manusia untuk meningkatkan hasil tangkapan secara luar biasa termasuk ikan yang masih kecil. Kedua, masuknya sumber-sumber bahan pencemar ke laut. Laut dijadikan tempat pembuangan akhir bagi seluruh sampah atau limbah yang dihasilkan manusia. Limbah tersebut mengubah komponen fisik air laut (salinitas, kekeruhan, suhu) dan akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan mematikan sejumlah spesiesnya. Ketiga, teknologi penangkapan ikan yang cendrung merusak masih diterapkan di sejumlah wilayah misalnya penggunaan bahan peledak.

Dampak yang ditimbulkan akibat perubahan tersebut, diantaranya adalah:

1)        Berkurangnya populasi sejumlah spesies tertentu akibat eksploitasi berlebihan, maupun akibat pencemaran, sehingga semakin lama hasil tangkapan nelayan juga berkurang.

2)        Berubahnya komponen fisik air laut seperti salinitas, kekeruhan, transparansi, suhu air laut berdampaknya pada hilangnya sejumlah spesies, perubahan pola perilaku sejumlah spesies, baik dalam bermigrasi, berkembangbiak, mencari makanan dan lain-lain.

3)        Hancurnya habitat akibat cara eksploitasi sumber daya laut yang cenderung merusak.

  1. Perubahan ekosistem pantai

Pantai memiliki daya tarik tertentu bagi manusia. Morfologinya yang datar dan akses yang luas ke dunia luar menjadi daya tarik bagi manusia untuk dijadikan sebagai pusat-pusat permukiman. Karena itulah, sebagian besar kota di dunia terletak di daerah pantai dan pesisir. Kondisi tersebut mengakibatkan rusaknya ekosistem pantai.Pembangunan permukiman atau kota, secara langsung telah mengubah ekosistem pantai. Limbah buangan dari aktivitas perkotaan juga telah mencemari pantai. Hilangnya tumbuhan pantai seperti mangrove, berkibat pada tingginya laju abrasi, sehingga banyak pantai yang telah bergeser ke arah daratan. Sedimentasi juga terjadi di pantai yang mengakibatkan terjadinya akresi.

Dampak dari perubahan ekosistem pantai diantaranya adalah:

1)        Pencemaran di pantai oleh sedimentasi maupun limbah dapat mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis pada fitoplankton, sehingga berdampak negatif bagi perikanan.

2)        Abrasi di pantai mengakibatkan bergesernya pantai ke arah daratan dan mengancam keberadaan sarana dan prasarana permukiman dan perkotaan.

3)        Rusaknya ekosistem pantai juga mengurangi estetika, sehinga merugikan sektor pariwisata.

4)        Akresi mengakibatkan terjadinya pelumpuran, sehingga mengurangi keindahan pantai dan menghambat fotosintesis.

  1. Estuaria

Ekosistem merupakan salah satu ekosistem yang juga rentan terhadap perubahan. Lokasinya yang berada pada pertemuan antara sungai dan lautan menjadi tempat yang dilalui oleh berbagai jenis kapal yang dapat mengganggu kehidupan organisma. Ekosistem estuaria juga mendapat pengaruh dari lingkungan yang ada di daratan. Tingginya erosi dan besarnya pencemaran limbah industri sangat mempengaruhi ekosistem estuaria.

Dampak dari perubahan tersebut, diantaranya adalah:

1)        Berkurangnya   jumlah   dan  jenis   spesies   yang   hidup   di   estuaria   karena  perubahan komponen-komponen fisik yang mendukungnya.

2)        Berkurangnya   hasil   tangkapan   ikan   oleh   nelayan   karena   sebagian  ikan   tidak   bisa berkembangbiak di estuaria.

  1. Perubahan ekosistem terumbu karang

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang sangat rawan dari kerusakan. Hal tersebut bisa dipahami mengingat nilai ekonominya yang sangat besar, baik dari terumbu karangnya, ikan maupun biota lainnya. Ikan hias banyak hidup di terumbu karang, sehingga terjadi penangkapan yang berlebihan (overfishing). Berbagai jenis Gastropoda dan Bivalvia (anggota kelompok moluska) memiliki warna cangkang yang indah-indah, sehingga banyak diminati dan dikoleksi. Terumbu karangnya bsendiri banyak dipakai sebagai bahan bangunan untuk pengganti batu kali. Untuk mendapatkannya, seringkali terumbu karang diledakkan, sehingga ekosistemnya hancur.

Dampak dari perubahan    ekosistem terumbu karang diantaranya adalah:

1)        Semakin   terbatasnya   jenis   dan   jumlah   ikan   yang   berdampak   pada  berkurangnya hasil tangkapan dan pendapatan nelayan.

2)        Fungsi   terumbu  karang  sebagai   pelindung   pantai   menjadi   hilang,  sehingga   terjadi abrasi.

3)        Terumbu    karang    sebagai    salah    satu    obyek    wisata    bahari    menjadi   hilang    dan akibatnya mengurangi devisa dari sektor pariwisata.

  1. Dampak Negatif Perubahan Tata Ruang Terhadap Ekosistem

Kebutuhan akan ruang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan yang meningkat tersebut menuntut perubahan fungsi lahan. Sebagian lahan yang seharusnya tetap sebagai hutan, kemudian diubah menjadi lahan pertanian dan permukiman. Wilayah yang seharusnya dijadikan sebagai wilayah konservasi kemudian diubah menjadi lahan budidaya.

Perubahan tata ruang    tersebut    berdampak    pada    ekosistem. Dampak   negatif    yang ditimbulkan akibat perubahan tata ruang tersebut adalah:

1)        Hilangnya sejumlah spesies karena tidak adanya tempat hidup atau habitathya telah berubah.

2)        Spesies pemangsa tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tata ruang yang ada atau sengaja dibunuh manusia karena berbahaya. Akibatnya, mereka berkurang jumlahnya, bermigrasi ke tempat lain dan bahkan mengalami kepunahan.

3)        Hilangnya spesies pemangsa berdampak pada meningkatnya populasi spesies yang dimangsa. Sebagian diantaranya sangat berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia

4)        Perubahan tata ruang juga mempengaruhi komponen fisik lainnya seperti perubahan tata air, udara, dan tanah, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai organisma.


Sumber:

https://duniabudidaya.co.id/anatomy-physiology-apk/