Punishment

Punishment


Self-punishment dari berbagai respon akan masuk ke dalam penyusunan kesatuan punishment dalam respon-respon yang tidak menyenangkan. Hal ini bisa dilihat pada perilaku menghukum dirinya sendiri yang terjadi pada biarawati atau orang-orang religius lainnya. Hal ini juga tentu saja berbeda dengan stimulasi aversif, sebagai contoh, jam alarm menyebabkan seseorang pergi dari alarmnya, sementara itu self-punishment menimbulkan stimulasi untuk mengurangi kemungkinan perilaku yang sama terjadi di masa yang akan datang.
Punishment (hukuman) lebih seperti konformitas daripada kontrol diri karena disana membutuhkan dorongan internal (internal drives), bukan sumber eksternal dari punishment (external source of punishment) yang membuat individu ingin melakukan sesuatu. Disana terdapat external locus of control yang mirip dengan determinisme (determinism), dan ada internal locus of control yang mirip dengan free will (kemauan bebas). Determinisme merupakan doktrin yang menyatakan bahwa setiap dampak pasti ada sebabnya, artinya semua bentuk tingkah laku merupakan satu fungsi dari faktor-faktor penyebab baik yang terdapat di tengah lingkungan individu maupun yang ada di dalam dirinya sendiri. Sedangkan lawan dari determinisme adalah kemauan bebas (freewill), yaitu doktrin yang menyatakan bahwa tingkah laku itu pada akhirnya diatur oleh kemauan tanpa menghiraukan pengaruh eksternal. Dengan mempelajari system of punishment, individu tidak membuat keputusan mereka berdasarkan apa yang mereka inginkan, melainkan berdasarkan pada faktor eksternal. Ketika seseorang menggunakan negative reinforcement kemungkinan ia akan mempengaruhi keputusan internal mereka dan mengizinkan mereka untuk membuat pilihannya sendiri dimana dengan punishment individu akan membuat keputusan mereka berdasarkan konsekuensi dan tidak mengunakan self control (kontrol diri). Cara terbaik untuk mempelajari kontrol diri adalah dengan free will dimana orang dapat merasa bahwa mereka sedang membuat pilihan-pilihannya sendiri.

 Melakukan sesuatu/hal yang lain.

Ketika diri kita sedang dipenuhi dengan kemarahan atau kebencian, kita harus mengontrol diri kita sendiri atau sesuatu yang lebih spesifik yang bertentangan dengan respon kita.

 Environment and Schooling

Lingkungan memaninkan peran yang penting/signifikan bagi perkembangan self control pada anak. Seperti kita ketahui bahwa ada hubungan yang positif antara usia dengan kontrol diri. Sebagai contoh, di sekolah anak-anak diajari bahwa mereka tidak dapat memiliki mainan apapun yang mereka inginkan, dan mereka pun harus berbagi mainan dengan yang lainnya. Mereka juga harus bertanya dengan sopan mengenai apapun yang mereka inginkan dan mereka tidak boleh memukul teman yang lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Selain itu, mereka juga tidak boleh main dimanapun. Mereka diajari bahwa jika mereka belajar dengan keras di kelasnya, maka mereka bisa mendapat izin untuk istirahat atau main. Hal tersebut dilakukan untuk mengajari anak agar menunda kepuasannya dan cara ini sangat efektif digunakan pada anak. Keluarga juga memiliki peran yang sangat penting, terutama orang tua dan saudara kandung, orang tua mengajar anak-anaknya tentang kontrol diri. Sebagai contoh, keluarga mengajarkan anggota keluarganya mengenai kontrol diri dalam menonton televisi dan apa yang akan dihasilkan dari menonton aksi-aksi di televisi.

sumber :
https://islamuswest.org/2020/06/11/seva-mobil-bekas/