Rambu-Rambu Yang Diberikan Al-Ghazali Sebagai Guru

Rambu-Rambu Yang Diberikan Al-Ghazali Sebagai Guru

Rambu-Rambu Yang Diberikan Al-Ghazali Sebagai Guru

Rambu-Rambu Yang Diberikan Al-Ghazali Sebagai Guru
Rambu-Rambu Yang Diberikan Al-Ghazali Sebagai Guru

Betapa khalayak muslim sudah banyak tahu tentang intelektualitas al-ghozali dan kepeduliannya terhadap ilmu. Ini tentu karena banyaknya jumlah karya beliau dan tidak sedikit yang membincangkan secara khusus seputar ilmu. Beliau juga memberikan ilustrasi-ilustrasi menarik seputar keutamaan ilmu dan memberikan motivasi yang memikat kepada para muda untuk mencapai ilmu yang mampu menuntunnya kepada keselamatan dirinya.

Ide Al-Ghazali

Ide-ide al-ghozali yang meliputi syarat-syarat ilmu pengetahuan dan keutamaan-keutamaannya, keharusan, konsekuensi dan problematikanya, bahaya dan kerusakannya, norma-norma dan kewajibanya tentang perjalanan ulama salaf dan cirri-ciri ulama ukhrowi dan duniawi, hamper semuanya diulas dengan argumentasinya secara naqli maupun aqli, yang muara akhirnya adalah untuk mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan duniawi dan lebih-lebih kebahagiaan ukhrowi.
Dalam membahas ilmu pendidikan, al-ghozali menjelaskandengan sangat detail, baik menyangkut kualifikasi ilmu itu sendiri, pemilik ilmu atau kepentingan-kepentingan seputar ilmu yang lainnya . tetapi apapun keberadaannya, al-ghozali telah sangat berjasa dengan sumbangan pemikiran filsafat dan pendidikannya kepada generasi berikutnya. Banyak dari pemikirannya yang dikemudian hari dimunculkan kembali oleh tokoh filusuf barat. Apakah dalam hal ini alur pemukirannya kebetulan sama dengan al-ghozali ataukan mungkin mengadopsi pemikirannya, tidak ada data yang pasti, wallahu a’lam.

Pertama

jika mengajar dan memberikan penyuluhan sudah menjadi keahlian dan profesi seorang guru (ulama), amak sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang.

Kedua

bagi yang mempelajari sejarah, khususnya sejarah pendidikan akan tahu bahwa menuntut upah dalam mengajar, bukanlah sesuatu yang diterima atau dibenarkan oleh masyarakat, ia harus semata-mata karna Allah SWT. Karena hal itu sudah menjadi kewajibannya. Al-Ghazali memandang rendah ide untuk mendapatkan harta, maka ia sama dengan orang yang membersihkan bagian bawah sandalnya dengan mukanya sendiri. Ia jadikan orang yang dilayani menjadi pelayan, dan pelayan menjadi orang yang dilayani.

Ketiga

Al-Ghazali berkata” Seorang guru selayaknya bertindak sebagai seorang penyuluh yang jujur dan benar dihadapan muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran sebelumnya. Ia tidak dibenarkan membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan terhadap murid bahwa tujuan pengajaran adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keempat

Al-Ghazali menasihatkan “ Seorang guru seyogyanya tidak menggunakan kekerasan dalam membina ruhani dan perilaku anak didik. Guru harus simpatik, karena jika hanya mengandalkan kekerasan justru hanya akan membuat anak didik semakin berani.

Kelima

guru harus bersikap baik dan berjiwa toleran. Diantara kebaikan guru adalah adanya penghargaan terhadap ilmu-ilmu yang bukan spesialisnya, tidak menjelekkan dan palagi merendahkan nilainya.

Keenam

Al-Ghazali juga mengahruskan guru unutk mau mangakui dan memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan antar individu.

Ketujuh

seorang guru harus mendalami kejiwaan muridnya, sehingga dia tahu bagaimana cara yang tepat dalam memperlakukan seorang murid.
Kedelapan, Al-Ghazali sangat menekankan, bahwa seorang guru harus punya pegangan atau prinsip serta berupayauntuk merealisasikannya. Diungkapakan oleh Al-Ghazali, bahwa guru bagi murid adalah ibarat bayangan dari kayu. Bayangan tidak mungkin lurus apabila kayunya bengkok.

Baca Juga: