Rektor Pertama UNS Diabadikan Sebagai Nama Auditorium

Rektor Pertama UNS Diabadikan Sebagai Nama Auditorium

Rektor Pertama UNS Diabadikan Sebagai Nama Auditorium

Rektor Pertama UNS Diabadikan Sebagai Nama Auditorium
Rektor Pertama UNS Diabadikan Sebagai Nama Auditorium

Nama rektor pertama Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gusti Pangeran Haryo (GPH)

Haryo Mataram diabadikan menjadi nama gedung auditorium UNS. Prosesi pemberian nama dilakukan, Rabu (20/2) dan dipimpin oleh Rektor UNS, Ravik Karsidi.

Ravik menjelaskan, pemberian nama tersebut tidak lain karena jasa besar dari GPH Haryo Mataram selama memimpin UNS mulai tahun 1967-1977. Selama kurun waktu tersebut, Haryo Mataram membawa berbagai keberhasilan. Diantaranya, mampu mengkonsolidasikan fakultas dengan universitas lama dengan pejabat eks Universitas Gabungan Surakarta (UGS).

“Seperti fakultas kedokteran dengan PTPN dan fakultas pertanian dengan pejabat Universitas Nasional Saraswati, karena masing-masing fakultas ini masih bertempat di lokasi lama,” terang Ravik dalam sambutannya.

Selain itu, keberhasilan lainnya yakni berhasil membentuk Statuta Universitas Negeri Surakarta

Sebelas Maret pada 14 Mei 1976. Pada awal berdirinya, berdasarkan Keppres No. 10 Tahun 1976 tentang Pendirian Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret Ps.1 terdapat sembilan (9) Fakultas yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan, Fakultas Sastra Budaya, Fakultas Ilmu Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Teknik.

“Haryo Mataram juga dikenal sebagai seorang akademisi yang ahli di bidang ilmu hukum humaniter. Beliau pernah menempuh pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1956,” ungkapnya.

Semasa muda, Ravik melanjutkan, putra bangsawan Paku Buwono X ini

juga pernah menempuh pendidikan di Akademi Militer pada 1948. Bahkan Haryo Mataram juga sempat menjabat sebagai staf ahli di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Jakarta.

Ravik berharap, pemberian nama ini membuat para generasi muda tidak kepaten obor atau tidak buta mengenai sejarah. “Kalau kelak UNS dikelola oleh siapa saja yang tidak paham terhadap sejarah UNS maka akan susah mencari kebanggaan pada dirinya sendiri karena buta sejarah. Kalau tidak punya kebanggaan diri bagaimana kita bisa melaksanakan kewajiban membawa UNS ke arah yang lebih baik,” pungkas Ravik.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/contoh-wawancara/