Teori Psikoseksual Freud

Teori Psikoseksual Freud

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pelopor teori psikodinamik. Teori ini berfokus pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Freud yakin bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan struktur kepribadian yang asli, yang berisi segala sesuatu yang secara psikologis telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan severvoir energy psikis dan meyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya.

Ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realitas. Ego di sebut sebagai “executive branch” (badan pelaksana) kepribadian karena ego membuat keputusan-keputusan rasional dan memiliki fungsi tertentu. Superego adalah struktur kepribadian yang merupakan badan moral kepribadian. Perhatian utamanya adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh masyarakat.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa id, ego dan superego adalah suatu konsep untuk menjelaskan komponen-komponen perkembangan biologis (id), psikologis (ego) dan social (superego).

  1. c)Teori Psikososial Erikson

Erik Erikson (1902-1994) adalah salah seorang teoritis ternama bidang perkembangan rentang-hidup. Erikson mengatakan bahwa individu berkembang dalam tahap-tahap psikososial, yang berbeda dengan tahap-tahap psikoseksual.

Menurut teori psikosoaial Erikson, kepribadian terbentuk ketika seseorang melewati tahap psikososial sepanjang hidupnya. Perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolesan, dan tiga thap terakhir pada masa dewasa dan usia tua. Dari delapan tahap perkembangan tersebut, Erikson lebih memberikan penekanan pada masa adolesen.

Walau begitu, cara pendekatan yang bersifat normopsikologis ditinjau dari pendekatan psikologi sepanjang hidup cukup relevan untuk ditinjau sejenak. Erikson membagi hidup manusia menjadi beberapa fase atas dasar proses – proses tertentu beserta akibat – akibatnya. Proses- proses tadi dapat berakhir baik atau tidak baik. Bila berakhir baik dapat memperlancar perkembangan, bila tidak baik maka akan menghambatnya. Dari segi pandangan psikologi perkembangan, maka pada setiap fase seseorang mempunyai “tugas” yang harus diselesaikan dengan baik.[4]

 

sumber :

https://www.sudoway.id/seva-mobil-bekas/